Di Indonesia terutama Daerah SulTeng hususnya Palu, Donggala bulan lalu dihantam gempa yang mengakibatkan tsunami lebih dari 800 orang meninggal dunia. Pemerintah pun tidak bekerja sendiri tapi sudah meminta bantuan internasional untuk menangani bencana tsunami ini.
Untuk rakyat orang Indonesia, tentu kita tidak bisa melupakan tsunami yang pernah menimpa Aceh pada 2004 silam, yang menewaskan lebih 100.000 orang korban.
Tsunami bisa diakibatkan oleh adanya pergeseran lempeng tektonik yang berada di bawah dasar laut saat terjadinya gempa. Tapi tsunami pula bisa di akibatkan oleh letusan gunung berapi, longsor, atau tanah jatuhnya meteor.
Sepanjang sejarah yang pernah ada, tsunami yang paling sering di alami adalah Jepang, bahkan masyarakat Jepang lah yang memberi nama pada bencana alam itu: 'tsu' bermakna pelabuhan 'nami' artinya 'ombak'.

"Sebetulnya cukup menakutkan jika mengingat tragedi (tsunami Jepang) ini bahkan mungkin lebih kecil dari tsunami di Samudera Hindia pada 2004 silam dan malahan lebih kecil dari tsunami di Chile pada 1960 yang lalu, tapi kerusakan yang di akibatkan terhadap manusia dan perekonomian Jepang cukup parah," kata Prof. james Goff, di salah satu direktur Pusat Penelitian Tsunami dan Bencana Alam lainnya di Lab Universitas News South Wales, yang bertempat di Australia. "Ini tragedi yang menghebohkan disebabkan dengan kejadian alam yang sangat tidak bisa terduga."
Karena tak ada data sejarah yang mumpuni untuk mengukur gelombang tsunami dan seberapa banyak kejadiannya didalam suatu peristiwa dan seberapa ukuran ombak tinggi itu mencapai pantai pesisir, para peneliti membuat tahapan tsunami berdasarkan seberapa besarnya kerusakan yang disebabkan oleh Tsunami tersebut. Walaupun begitu, menghitung berapa besar akibat kerusakan dari suatu kejadian tsunami bisa menelan waktu yang sangat lama bahkan bertahun-tahun.
Sumber dari situa Australian Geographic,
Terimakasih sudah berkunjung.